Medialiputanindonesia.com, (BEKASI) – Demi Meraup keuntungan, Toko Kosmetik di Perumahan Bumi Cikarang Makmur (BCM), Desa Sukadami, Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi Jawa Barat, tepatnya pertokoan yang hanya berjarak 20 meter dari gerbang pintu masuk perumahan, diduga edarkan obat Excimer dan Tramadol, karena terbilang cukup ekonomis pelanggan obat tersebut adalah kalangan para remaja alias ABG.

Saat dikonfirmasi wartawan, Adi anak buah toko penjual obat excimer dan tramadol berkedok toko kosmetik ini mengatakan, dirinya mengakui berani menjual obat keras tanpa resep dokter dan ijin edar semata-mata untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Ia juga mengaku baru berjualan satu hari ini, setelah hampir sebulan tutup atas perintah RO.

“Baru satu hari berjualan obat excimer dan tramadol, setelah hampir sebulan tutup. Itu pun kalau ada barang baru saya jual, Saya tau kalau berjualan obat ini melanggar hukum, tapi gimana lagi untuk mencari makan dan kalau ada keuntungan lebih, karena keuntungan dari menjual kosmetik dan sirup sangat kecil. Kalau mau menanyakan lebih silahkan tanya penanggung jawab toko selaku tangan kanan pemilik toko, namanya Roy, karena saya hanya penjaga toko di sini, jadi tidak tahu apa-apa,” Katanya.

Menurut Adi lagi, selain toko ini, ada 5 toko kosmetik lainnya di daerah Cikarang Selatan yang menjual obat excimer dan tramadol. “Toko kita masih baru buka, hampir semua toko sama baru buka hari ini karna di suruh tutup paguyuban yang kita ikuti,” Ucapnya.

Hal tersebut mendapatkan kritikan keras dari tokoh masyarakat perumahan BCM yang juga selaku ketua RT 012, “Penjual obat keras excimer dan tramadol sudah jelas sangat merusak generasi pemuda-pemudi penerus bangsa kita, bagaimana pemuda-pemudi kita akan cerdas jika sejak dini sudah dicekoki obat tersebut.

“Bangsa Kita Butuh Penerus untuk memajukan pembangunan Negara kita, tapi kalau sejak dini sudah dicokoki obat-obatan seperti itu bagaimana bisa maju kedepannya,” Ucap Sucipto selaku Ketua RT 012/14. Sabtu (05/01/2019) Malam.

Sucipto menambahkan, penjualan obat keras tanpa izin dan resep itu sebuah pelanggaran dan perlu ditindak sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku di Indonesia.

“Saya meminta kepada Instansi terkait khususnya pihak Polsek Cikarang Selatan untuk melakukan tindakan, jangan hanya berdiam saja. Bahkan bila perlu dilakukan penyegelan toko bila terbukti melakukan pelanggaran mengedarkan obat keras dan penjual dituntut sesuai dengan UU Kesehatan,” Tegasnya.

Diketahui, Excimer adalah suatu obat yang mengandung CPZ/Chlorpromazine sebagai penurun kadar suatu zat bernama dopamin dalam otak, kegunaan obat tersebut terutama untuk mengobati orang gangguan jiwa berat.

Sementara Tramadol adalah analgesik opiat yang merupakan salah satu obat pereda nyeri yang kuat yang digunakan untuk menangani rasa sakit tingkat sedang hingga berat. Tramadol bekerja secara sentral dengan mengikat reseptor pusat nyeri di sistem saraf pusat dan menghambat pelepasan zat penghantar pada jaringan saraf sehingga rasa nyeri, rangsangan nyeri dan respon terhadap nyeri menghilang.

Sementara itu Kapolsek Cikarang Selatan Kompol Alin Kuncoro, S.pd ketika dikonfirmasi terkait maraknya peredaraan Eximer dan Tramadol di wilayah hukumnya mengatakan, Akan menindak para penjual obat tidak berijin di wilayah Cikarang Selatan jika benar terbukti, dengan mengatakan “Siap”.

Jika terbukti mengedarkan, Adi dan Roy bisa dijerat Pasal 197 Jo Pasal 106 ayat 1 UU RI Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan dengan ancaman hukuman penjara 15 tahun dan denda Rp1,5 Miliar. (A.Riri).