Medialiputanindonesia.com, (JAKARTA) – Akhirnya, PT. Pertamina menerima kapal tanker pengangkut minyak mentah type General Purpose 17.500 LTDW yang bernama Papandayan. Kapal Tanker itu sendiri dikerjakan oleh PT. Daya Radar Utama (DRU).

Diketahui, PT. Daya Radar Utama sebenarnya ditugaskan PT. Pertamina untuk mengerjakan tiga kapal tanker dengan rincian, MT Panderman Perjanjian Kontrak 1 Oktober 2013 nilai kontrak sebesar USD22.995.000, MT Papandayan perjanjian kontrak 7 Mei 2014 nilai kontrak sebesar USD22.695.000 dan MT Pangalengan 7 November 2014 nilai kontrak USD22.595.000.

Namun faktanya, proyek tiga kapal tersebut dalam pelaksanaannya tidak berjalan sesuai perjanjian kontrak alias mangkrak. Untuk mensiasati kondisi ini, PT. Pertamina bersama pemenang proyek melakukan beberapa kali perubahan perjanjian kontrak yang disinyalir beraroma tidak sedap.

Kepada Medialiputanindonesia.com, Koordinator Investigasi Center for Budget Analysis (CBA), Jajang Nurjaman mengungkapkan, sejak awal proses lelang ditemukan indikasi adanya permainan yang terlihat dari persyaratan yang ditentukan pihak PT. Pertamina.

Dalam dokumen tender sambung Jajang, bernomor 17/PPKB/IV/2013 terkait persyaratan lelang proyek MT Panderman, tertuang persyaratan lelang yakni, Perusahaan Galangan Kapal dalam negeri yang berdomisili di Indonesia.

Namun anehnya, dalam lelang selanjutnya terkait pengadaan MT Papandayan dan MT Pangalengan dalam dokumen tender nomor 35/PPKB/XI/2013, terdapat persyaratan tambahan yakni, Perusahaan Galangan kapal nasional yang lebih dari 50 persen sahamnya dimiliki oleh perseorangan Warga Negara Indonesia, Negara Republik Indonesia, Pemerintah Daerah, BUMN atau BUMD.

“Sebagai catatan, dalam lelang ini, PT. Daya Radar Utama kembali memenangkan proyek kapal, bahkan dua sekaligus,” ungkap Jajang.

Menurut Jajang, adanya perbedaan dan perubahan persyaratan lelang patut dicurigai guna mengamankan perusahaan tertentu. Hal ini terlihat dari persyaratan yang dibuat tidak substansial.

PT. Pertamina lanjut Jajang, malah mengabaikan fakta bahwa Konsorsium PT. Daya Radar Utama yaitu Nanjing East Star Shipbuilding, Co. Ltd yang bertanggung jawab dalam menyiapkan ship design, drawing, engineering, construction supervision and commissioning assistance dan equipment purchase assistance, tidak memiliki pengalaman dalam membangun kapal tanker GP-17.500 LTDW.

Dikatakan Jajang, proyek pembangunan tiga kapal sejak awal proses lelang sudah sarat akan permainan. Hal ini, berdampak terhadap mangkraknya proyek. Alih-alaih melakukan evaluasi dan sanksi tegas kepada pihak pemenang proyek yang dilakukan PT. Pertamina hanya melakukan perubahan kontrak misalnya proyek MT Panderman dilakukan dua kali revisi pada Juli 2016 dan Mei 2017 begitu juga dengan MT. Papandayan.

Akibatnya kata Jajang, mangkraknya 3 mega proyek kapal tanker tersebut PT. Pertamina dipastikan menanggung kerugian hingga jutaan dolar.

“Ironis, ditengah-tengah kerugian, PT. Pertamina seolah santai, bahkan untuk menagih denda keterlambatan proyek dari PT. Daya Radar Utama sampai tahun 2017 yang mencapai USD3.414.720 tidak serius dilakukan pihak PT. Pertamina,” katanya.

Oleh karena itu tambah Jajang, Center for Budget Analysis (CBA), mendorong Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk melakukan penyelidikan terhadap tiga mega proyek kapal tanker milik PT. Pertamina tersebut.

“Segera perikasa pihak-pihak yang berkaitan dengan proyek tersebut, seperti Panitia lelang, termasuk Dirut PT. Pertamina, Nicke Widyawati,” pungkasnya.(Mul).