Oleh : Dede Farhan Aulawi

Medialiputanindonesia.com – Apa sebenarnya inti dari ilmu Kepemimpinan (leadership) itu ? Apa yang diajarkan di sekolah – sekolah kepemimpinan ? Banyak pendidikan kepemimpinan yang dilakukan oleh berbagai kampus ternama, tetapi tetap saja outputnya hanya menghasilkan pemimpin – pemimpin hafalan alias teoritik. Sebut saja mereka jago tentang Great Man Theory, Trait Theory, Behavioural Theories, Contingency Theories, Transactional Theories, Transformational Theories dan lain – lain. Saat ujian mungkin nilainya dapat A, tapi apakah iya ilmu kepemimpinan itu terletak dinilai ? Jika nilai yang menjadi patokan, pantas saja banyak orang yang berlomba ingin dapat nilai bagus “bagaimanapun” caranya.

Merujuk teori – teori di atas, selanjutnya orang – orang mendalami lagi teori lain seperti Fiedler’s contingency theory, Hersey-Blanchard Situational Leadership Theory, Path-goal theory, Vroom-Yetton-Jago decision-making model of leadership, Cognitive Resource Theory dan Strategic Contingencies Theory. Akhirnya secara teoritik banyak dilahirkan lulusan yang hebat – hebat, namun belum banyak yang lulus saat diuji di lapangan.

Pada kesempatan ini, saya hanya ingin menyampaikan bahwa inti dari ilmu kepemimpinan itu adalah keterampilan atau kemampuan untuk mempengaruhi orang lain (How to Influence The People ?). Lihat saja fakta sejarah bahwa banyak pemimpin – pemimpin hebat di suatu negara atau suatu perusahaan padahal pendidikan formalnya tidak tinggi. Bahkan mungkin ia belum pernah mengenyam pendidikan di sekolah kepemimpinan, tetapi kualitas kepemimpinannya sangat diakui oleh dunia. Gaya kepemimpinan boleh jadi berbeda, tetapi ada satu kesamaan yaitu mereka memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain. Ini kata kuncinya.

Adapun ruang lingkup dari kemampuan untuk mempengaruhi orang lain ini, tentu bisa di-breakdown menjadi beberapa sub kemampuan, seperti kecakapan dalam berkomunikasi, keterampilan dalam menjalin kerjasama team, keahlian membangun jaringan (network), serta kemampuan untuk mempengaruhi orang lain agar sepakat dengan ide – ide atau gagasan kita.

Ada beberapa inti pelajaran yang bisa menjadi bahan renungan buat kita, jika ingin memiliki keterampilan agar bisa mempengaruhi orang lain. Pelajaran pertama, adalah “Hindari Sikap Mengkritik dan Memberi Komentar Negatif. Perbanyaklah memberi Apresiasi”. Mengkritik kekurangan orang lain tentu mudah, karena yang sulit itu memberi solusi. Siapa orang yang sempurna yang tidak memiliki kekurangan ? pasti tidak ada. Setiap orang hanya mampu berusaha untuk mengurangi kekurangan dengan segenap kemampuannya. Namun demikian di saat ia harus melangkah pasti ada pilihan, sebab langkahnya bisa benar bisa juga salah. Tapi paling tidak kita bisa menghargai ia, bahwa ia “sudah berani” untuk melangkah. Sebaliknya marilah kita mencoba untuk belajar memberikan apresiasi yang tulus atas apa yang sudah orang lain kerjakan.

Pelajaran kedua adalah “Jadilah Pendengar yang Baik dan Penuh Atensi”. Kita memiliki satu mulut dan dua telinga, pada dasarnya memberi pelajaran agar kita harus berusaha untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara. Sementara dalam praktik empirik seringkali kita temukan bahwa lebih banyak orang yang siap untuk berbicara dan berdebat, daripada orang yang berusaha untuk mau mendengar pendapat orang lain. Hindari mendominasi pembicaraan dalam setiap rapat atau diskusi, sebab orang lain yang diam belum tentu tidak faham apa yang kita ucapkan. Dan di saat orang lain bicara, belajarlah untuk mendengar dengan penuh atensi, jangan seperti orang sibuk lalu asyik bermain handphone. Orang yang asyik main handphone saat orang lain bicara, atau ikut berbicara saat orang lain bicara, hakikatnya dia sedang mempertontonkan bahwa dirinya tidak pantas untuk dihargai.

Dan pelajaran terakhir adalah, “Ajak Bicara tentang Hal yang Menarik dan Penting bagi Lawan Bicara Anda”. Jangan bicara tentang sesuatu yang menarik bagi anda, tetapi coba bahaslah sebuah objek yang menarik untuk dibicarakan dari sisi orang lain. Dengarlah ide dan gagasan orang lain dengan baik agar orang lainpun mau mendengar ide dan gagasan kita. Esensinya belajar dan belajar untuk selalu menghargai orang lain agar orang lainpun mau menghargai kita. Jangan pernah berkeinginan untuk menunjukan diri bahwa kita serba tahu dan serba bisa, sebab boleh jadi orang lain bukan bersimpati, justeru akan menilai kita menjadi negatif.(red).